DBD dan Pemberdayaan Masyarakat
1 Agustus 2010 oleh Arda Dinata
Demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik-jentiknya), kemitraan dalam wadah Pokjanal DBD (kelompok kerja operasional DBD), pemberdayaan masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN 3M Plus) dan peningkatan profesionalisme pelaksana program.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi terjadi-nya peningkatan kasus, salah satunya dan yang paling utama adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam kegiatan pemberantas-an sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras-menutup-mengubur). Kegiatan ini telah diintensifkan sejak 1992 dan pada 2000 dikembangkan menjadi 3M Plus yaitu dengan cara menggunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.
Selama ini berbagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam PSN-DBD sudah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal dapat merubah perilaku masyarakat untuk secara terus menerus melakukan PSN-DBD di lingkungan masing-masing.
Untuk mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD, pada tahun 2004 WHO memperkenalkan suatu pendekatan baru yaitu Komunikasi Perubahan Perilaku/KPP (Communications for Behavioral Impact/COMBI), tapi beberapa negara di Asean (Malaysia, Laos, Vietnam), Amerika Latin (Nikaragua, Brazil, Cuba) telah menerapkan pendekatan ini dengan hasil yang baik. Di Indonesia sendiri sudah diterapkan daerah uji coba yaitu di Jakarta Timur dan memberikan hasil yang baik.
Pendekatan tersebut lebih menekankan pada kekompakkan kerja tim (sebagai tim kerja dinamis). Perumusan dan penyampaian pesan, materi dan media komunikasi direncanakan berdasarkan masalah yang ditemukan oleh masyarakat dengan cara pemecahan masalah yang disetujui bersama. Akhhirnya, dengan pendekatan KPP/COMBI diharapkan perubahan perilaku masyarakat ke arah pemberdayaan PSN dapat tercapai secara optimal. [Arda D].***
http://ebookmiqra.wordpress.com/2010/08/01/dbd-dan-pemberdayaan-masyarakat/
Serba-serbi info tentang Dunia Nyamuk dan Penyakit yang Ditimbulkannya hingga perkembangan paling aktual saat ini ada disini... SOFTWARE ANTI NYAMUK
Nyamuk Aedes Aegypti
Wednesday, March 2, 2011
Demam Berdarah Dengue, Sebuah Polemik yang Harus Dituntaskan
RACIKAN KHUSUS - Edisi Februari 2008 (Vol.7 No.7)
________________________________________
Pemberantasan DBD terbentur kendala resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida. Penggunaan insektisida tersebut dalam waktu lama dapat menimbulkan resistensi Ae.aegypti terhadap bahan aktifnya.
Pada16 Juni 2007 boleh jadi merupakan hari berbahagia bagi Departemen Parasitologi FKUI. Kala itu, sang kepala departemen dinobatkan menjadi guru besar tetap parasitologi FKUI. Beliaulah, Prof dr Saleha Sungkar DAP&E MS SpPar(K).
Prof Saleha sudah berkecimpung 20 tahun lebih dalam bidang parasitologi. Dalam pidato pengukuhannya, beliau mengemukakan tema tentang pemberantasan demam berdarah dengue (DBD).
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Sampai saat ini, DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena incidence rate-nya terus meningkat dan penyebarannya semakin luas. DKI Jakarta adalah salah satu propinsi yang terus mengalami peningkatan incidence rate DBD, selain Jawa Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Maka dari itu, DBD menjadi tantangan yang harus segera dituntaskan.
Meski berstatus ibu kota negara, pada kenyatannya DKI Jakarta merupakan propinsi dengan jumlah penderita DBD terbanyak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta jumlah penderita DBD pada tahun 2003 sebanyak 14071 orang dengan case fatality rate (CFR) 0,42 %. Pada tahun 2004 jumlah penderita meningkat tajam menjadi 20640 orang dengan CFR 0,44 % sedangkan tahun 2005 terjadi peningkatan dengan jumlah penderita 23466 orang dengan CFR 0,34%.
Berbagai program terus digencarkan oleh pemerintah untuk memerangi DBD. Upaya pencegahan (preventif) lebih diutamakan karena lebih cost-effective daripada mengobati pasien yang sakit. Beberapa contoh upaya preventif adalah penyemprotan massal, pemberantasan sarang nyamyuk (PSN), dan penyuluhan ke seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai media massa.
Namun, semua langkah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bukannya menunjukkan tanda perbaikan, malah setiap tahunnya Indonesia terus dibayangi kejadian luar biasa (KLB) DBD.
Adapun beberapa faktor kegagalan dalam pemberantasan DBD diantaranya mencakup perilaku penduduk, tenaga kesehatan, sistem peringatan dini oleh pemerintah, resistensi nyamuk terhadap insektisida, serta alokasi dana.
Sebagian besar penduduk Indonesia belum menyadari pentingnya memelihara kebersihan lingkungan. Salah satu masalah yang umum ditemukan adalah rendahnya kesadaran penduduk untuk menjaga agar tidak terdapat wadah-wadah yang dapat menampung air di lingkungan tempat tinggalnya.
Di daerah tertentu yang air minumnya asin dan ketersediaan air minum tidak teratur, penduduk terbiasa menampung air bersih di dalam drum yang dapat berisi 200 liter air dan air ditampung untuk jangka waktu lama. Drum tersebut menjadi tempat berkembangbiak Ae. aegypti. Sementara itu, di daerah dengan ketersediaan air yang baik ternyata penduduk juga banyak yang menampung air di dalam bak mandi. Air dalam bak mandi selalu digunakan tetapi biasanya tidak sampai habis sehingga larva tetap berada di tempat tersebut. Selain itu bila ada gerakan, larva akan bergerak ke bawah sehingga tidak terbuang pada saat air diambil.
Kebiasaan lain yang turut menghambat pemberantasan DBD adalah tidak menguras bak mandi secara teratur dan walaupun sebagian masyarakat telah menguras secara teratur, seringkali dengan cara yang salah. Pengurasan umumnya hanya dilakukan dengan mengganti air tanpa menyikat dinding bak mandi. Cara tersebut tidak efektif karena telur Ae. aegypti tetap melekat di dinding bak mandi. Telur Ae. aegypti dapat bertahan hingga enam bulan sehingga jika tidak dihilangkan akan terus melanjutkan siklus hidupnya.
Dinding bak mandi yang terbuat dari semen bersifat kasar, gelap, dan mudah menyerap air. Dinding tempat penampungan air seperti itu sangat disukai Ae. aegypti. Tempat penampungan air yang tidak disukai Ae. aegypti adalah yang dindingnya licin, tidak menyerap air dan terang misalnya keramik.
Akhir-akhir ini, pemerintah semakin menggalakkan program penghijauan dan keindahan kota. Masyarakat pun mempercantik halaman rumahnya dengan tanaman hias. Tanaman tersebut menjadi tempat istirahat Ae. aegypti apalagi jika terlalu rimbun dan tidak terkena sinar matahari karena Ae. Aegypti menyukai tempat istirahat yang lembab dan teduh. Tanaman dengan daun yang dapat menampung air juga dapat menjadi tempat berkembang biak Ae. aegypti. Dengan demikian, tanaman perlu diperhatikan agar tidak terlalu rimbun, dipilih yang tidak dapat menampung air dan harus terkena sinar matahari.
Saat ini strategi pemberantasan DBD antara lain dengan memberantas Ae. aegypti sebelum musim penularan untuk membatasi penyebaran DBD dan mencegah KLB. Pemberantasan tersebut dilakukan dengan penggerakan masyarakat untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dikenal dengan program Jum'at bersih, pengasapan masal di kelurahan endemis tinggi dan tempat umum (sekolah, rumah sakit, puskesmas, mesjid, gereja, kantor-kantor) serta pemeriksaan jentik berkala.
Pengasapan (fogging) dilakukan dua kali di semua rumah dan tempat umum, terutama di kelurahan endemis tinggi. Pengasapan menggunakan insektisida malation 4% (atau fenitrotion) dalam solar dengan dosis 438 ml/Ha. Pengasapan harus dilakukan di dalam dan di sekitar rumah karena aktifitas dan tempat istirahat Ae. aegypti adalah di dalam rumah dan di sekitar rumah. Pengasapan mampu menurunkan populasi Ae. aegypti dengan cepat tetapi terkadang hasil yang dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Pada saat pengasapan terkadang petugas hanya menyemprot halaman rumah dan gang-gang sekitar rumah penduduk tetapi tidak masuk ke dalam rumah karena penduduk menolak penyemprotan di dalam rumah. Alasan penolakan adalah insektisida yang disemprot berbau tidak sedap, membuat lantai licin, dan dikuatirkan mencemari makanan serta pernapasan. Akibatnya, pengasapan hanya membunuh nyamuk yang berada di sekitar halaman rumah sedangkan nyamuk yang berada di dalam rumah tidak terberantas.
Pengasapan juga harus diikuti abatisasi dan PSN karena pengasapan hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa. Apabila tidak diikuti dengan abatisasi dan PSN, larva Aedes aegypti tidak dapat diberantas dan akan tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Larvisida yang digunakan untuk abatisasi (temefos) mempunyai efek residu selama 2–3 bulan. Jadi, bila dalam setahun dilakukan empat kali abatisasi maka selama setahun populasi nyamuk akan terkontrol dan dapat ditekan serendah-rendahnya.
Pemeriksaan jentik berkala dilakukan oleh juru pemantau jentik (jumantik) yang bertugas melakukan kunjungan rumah setiap tiga bulan. Hasil yang didapat jumantik dilaporkan dalam bentuk Angka Bebas Jentik (ABJ) yaitu rasio antara jumlah rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik dengan jumlah rumah/bangunan yang diperiksa dikali 100%. ABJ merupakan indikator penyebaran Ae. aegypti. Dengan strategi pemberantasan yang telah ditetapkan, ditargetkan ABJ dapat mencapai lebih dari 95%.
Sistem Peringatan Dini telah dilakukan oleh Malaysia dan terbukti efektif dalam menurunkan angka kejadian DBD. Pemerintah Indonesia perlu membentuk Sistem Peringatan Dini untuk memberikan peringatan dini bagi masyarakat setiap tahunnya sebelum terjadi KLB DBD sehingga masyarakat dapat mengantisipasinya. Sistem Peringatan Dini dapat memanfaatkan media elektronik sebagai sarana sosialisasi. Isi sosialisasi sebaiknya mencakup gejala khas DBD yaitu demam tinggi dan perdarahan terutama perdarahan kulit, serta apa yang harus dilakukan terhadap penderita DBD. Sosialisasi juga perlu mencakup upaya pemberantasan DBD yang efektif dan efisien seperti PSN dan upaya perlindungan diri, seperti pemasangan kelambu pada saat anak tidur siang, kawat kasa pada lubang ventilasi udara, dan memakai penolak nyamuk.
Hambatan lain dalam pemberantasan DBD adalah resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta, insektisida yang digunakan untuk pengasapan di wilayah Jakarta adalah malation yang telah digunakan secara masal sejak tahun 1969. Selain itu, juga digunakan temefos yang merupakan larvisida yaitu insektisida untuk membunuh larva Ae. aegypti yang telah digunakan secara masal sejak tahun 1980. Malation dan temefos mengandung bahan aktif organofosfat. Penggunaan insektisida tersebut dalam waktu lama dapat menimbulkan resistensi Ae.aegypti terhadap bahan aktifnya. Hal itu disebabkan pada saat pengasapan tidak semua Ae. aegypti terbunuh tetapi masih ada yang hidup karena nyamuk berhasil menghindar dari insektisida atau dosis insektisida yang kontak dengan nyamuk tidak mencukupi. Akibatnya nyamuk tersebut menjadi resisten dan resistensi itu diturunkan kepada keturunannya.
Sudah terdapat beberapa penelitian yang mendukung adanya resistensi tersebut. Mardihusodo menunjukkan bahwa larva Ae. aegypti di Yogyakarta cenderung resisten terhadap malation dan temefos. Selain itu, penelitian Gionar et al menunjukkan bahwa 90% Cx.quinquefasciatus di Jakarta dikategorikan resisten terhadap organofosfat dan 25% Ae. aegypti di Bandung resisten terhadap organofosfat.
Penelitian yang dilakukan Departemen Parasitologi bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta pada tahun 2007, melaporkan sebagian besar larva Ae. aegypti di Tanjung Priok telah resisten terhadap insektisida organofosfat yaitu 44,8 % resisten sedang dan 50% sangat resisten. Di Mampang Prapatan, sebagian besar larva Ae. aegypti juga telah resisten terhadap insektisida organofosfat yaitu 57,2% resisten sedang dan 9,8% sangat resisten.
Dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, penelitian mengenai pengendalian vektor DBD di Indonesia masih tertinggal karena keterbatasan dana.
Peningkatan anggaran untuk menunjang penelitian terhadap virus dengue maupun nyamuk Ae. aegypti dapat mendorong keberhasilan pemberantasan DBD. Diperlukan penelitian untuk mencari sistem pengendalian vektor DBD dengan berbagai cara antara lain pemberantasan biologik yang lebih aman, efektif, dan dapat diterima oleh penduduk. Juga diperlukan penelitian yang dapat menciptakan rekayasa genetika pada Ae.aegypti sehingga nyamuk tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya.
Juga diperlukan untuk mencari sistem pengendalian vektor DBD dengan cara lain misalnya mengintegrasikan teknik biologi molekuler. Saat ini penelitian fase I dari sekuens genom Ae. aegypti telah selesai dilakukan oleh The Institute of Genomic Research dan Universitas Notre Dame. Selanjutnya adalah menentukan Transposable Element (TE) pada genome Ae. aegypti. TE merupakan segmen asam nukleat (materi genetik) yang berpengaruh secara signifikan terhadap struktur dan ukuran genom Ae. aegypti. TE dapat digunakan untuk mempelajari interaksi nyamuk dengan patogen sehingga dapat digunakan untuk pemberantasan penyakit. Caranya adalah dengan memasukkan gen yang membuat nyamuk kebal terhadap infeksi virus DBD sehingga tidak lagi berperan sebagai vektor DBD. Hal tersebut memberikan harapan untuk memberantas DBD secara genetik (genetic control) di masa mendatang.
Akhir-akhir ini, upaya pemberantasan DBD yang hangat dibicarakan adalah vaksin dengue, namun sampai saat ini vaksin itu belum tersedia karena terbatasnya dana penelitian. Kesulitan lain yang dihadapi adalah vaksin harus dapat mencegah infeksi dari keempat serotipe virus dengue. Kendala lain yang dihadapi adalah kesulitan memprediksi apakah vaksin dengue tersebut benar-benar efektif karena sampai saat ini penelitian baru dilakukan terhadap model binatang yang tidak menimbulkan gejala DBD seperti pada manusia. Kita masih harus menunggu sampai vaksin benar-benar siap dan dapat digunakan secara masal. (Felix)
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=642
________________________________________
Pemberantasan DBD terbentur kendala resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida. Penggunaan insektisida tersebut dalam waktu lama dapat menimbulkan resistensi Ae.aegypti terhadap bahan aktifnya.
Pada16 Juni 2007 boleh jadi merupakan hari berbahagia bagi Departemen Parasitologi FKUI. Kala itu, sang kepala departemen dinobatkan menjadi guru besar tetap parasitologi FKUI. Beliaulah, Prof dr Saleha Sungkar DAP&E MS SpPar(K).
Prof Saleha sudah berkecimpung 20 tahun lebih dalam bidang parasitologi. Dalam pidato pengukuhannya, beliau mengemukakan tema tentang pemberantasan demam berdarah dengue (DBD).
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Sampai saat ini, DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena incidence rate-nya terus meningkat dan penyebarannya semakin luas. DKI Jakarta adalah salah satu propinsi yang terus mengalami peningkatan incidence rate DBD, selain Jawa Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Maka dari itu, DBD menjadi tantangan yang harus segera dituntaskan.
Meski berstatus ibu kota negara, pada kenyatannya DKI Jakarta merupakan propinsi dengan jumlah penderita DBD terbanyak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta jumlah penderita DBD pada tahun 2003 sebanyak 14071 orang dengan case fatality rate (CFR) 0,42 %. Pada tahun 2004 jumlah penderita meningkat tajam menjadi 20640 orang dengan CFR 0,44 % sedangkan tahun 2005 terjadi peningkatan dengan jumlah penderita 23466 orang dengan CFR 0,34%.
Berbagai program terus digencarkan oleh pemerintah untuk memerangi DBD. Upaya pencegahan (preventif) lebih diutamakan karena lebih cost-effective daripada mengobati pasien yang sakit. Beberapa contoh upaya preventif adalah penyemprotan massal, pemberantasan sarang nyamyuk (PSN), dan penyuluhan ke seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai media massa.
Namun, semua langkah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bukannya menunjukkan tanda perbaikan, malah setiap tahunnya Indonesia terus dibayangi kejadian luar biasa (KLB) DBD.
Adapun beberapa faktor kegagalan dalam pemberantasan DBD diantaranya mencakup perilaku penduduk, tenaga kesehatan, sistem peringatan dini oleh pemerintah, resistensi nyamuk terhadap insektisida, serta alokasi dana.
Sebagian besar penduduk Indonesia belum menyadari pentingnya memelihara kebersihan lingkungan. Salah satu masalah yang umum ditemukan adalah rendahnya kesadaran penduduk untuk menjaga agar tidak terdapat wadah-wadah yang dapat menampung air di lingkungan tempat tinggalnya.
Di daerah tertentu yang air minumnya asin dan ketersediaan air minum tidak teratur, penduduk terbiasa menampung air bersih di dalam drum yang dapat berisi 200 liter air dan air ditampung untuk jangka waktu lama. Drum tersebut menjadi tempat berkembangbiak Ae. aegypti. Sementara itu, di daerah dengan ketersediaan air yang baik ternyata penduduk juga banyak yang menampung air di dalam bak mandi. Air dalam bak mandi selalu digunakan tetapi biasanya tidak sampai habis sehingga larva tetap berada di tempat tersebut. Selain itu bila ada gerakan, larva akan bergerak ke bawah sehingga tidak terbuang pada saat air diambil.
Kebiasaan lain yang turut menghambat pemberantasan DBD adalah tidak menguras bak mandi secara teratur dan walaupun sebagian masyarakat telah menguras secara teratur, seringkali dengan cara yang salah. Pengurasan umumnya hanya dilakukan dengan mengganti air tanpa menyikat dinding bak mandi. Cara tersebut tidak efektif karena telur Ae. aegypti tetap melekat di dinding bak mandi. Telur Ae. aegypti dapat bertahan hingga enam bulan sehingga jika tidak dihilangkan akan terus melanjutkan siklus hidupnya.
Dinding bak mandi yang terbuat dari semen bersifat kasar, gelap, dan mudah menyerap air. Dinding tempat penampungan air seperti itu sangat disukai Ae. aegypti. Tempat penampungan air yang tidak disukai Ae. aegypti adalah yang dindingnya licin, tidak menyerap air dan terang misalnya keramik.
Akhir-akhir ini, pemerintah semakin menggalakkan program penghijauan dan keindahan kota. Masyarakat pun mempercantik halaman rumahnya dengan tanaman hias. Tanaman tersebut menjadi tempat istirahat Ae. aegypti apalagi jika terlalu rimbun dan tidak terkena sinar matahari karena Ae. Aegypti menyukai tempat istirahat yang lembab dan teduh. Tanaman dengan daun yang dapat menampung air juga dapat menjadi tempat berkembang biak Ae. aegypti. Dengan demikian, tanaman perlu diperhatikan agar tidak terlalu rimbun, dipilih yang tidak dapat menampung air dan harus terkena sinar matahari.
Saat ini strategi pemberantasan DBD antara lain dengan memberantas Ae. aegypti sebelum musim penularan untuk membatasi penyebaran DBD dan mencegah KLB. Pemberantasan tersebut dilakukan dengan penggerakan masyarakat untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dikenal dengan program Jum'at bersih, pengasapan masal di kelurahan endemis tinggi dan tempat umum (sekolah, rumah sakit, puskesmas, mesjid, gereja, kantor-kantor) serta pemeriksaan jentik berkala.
Pengasapan (fogging) dilakukan dua kali di semua rumah dan tempat umum, terutama di kelurahan endemis tinggi. Pengasapan menggunakan insektisida malation 4% (atau fenitrotion) dalam solar dengan dosis 438 ml/Ha. Pengasapan harus dilakukan di dalam dan di sekitar rumah karena aktifitas dan tempat istirahat Ae. aegypti adalah di dalam rumah dan di sekitar rumah. Pengasapan mampu menurunkan populasi Ae. aegypti dengan cepat tetapi terkadang hasil yang dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Pada saat pengasapan terkadang petugas hanya menyemprot halaman rumah dan gang-gang sekitar rumah penduduk tetapi tidak masuk ke dalam rumah karena penduduk menolak penyemprotan di dalam rumah. Alasan penolakan adalah insektisida yang disemprot berbau tidak sedap, membuat lantai licin, dan dikuatirkan mencemari makanan serta pernapasan. Akibatnya, pengasapan hanya membunuh nyamuk yang berada di sekitar halaman rumah sedangkan nyamuk yang berada di dalam rumah tidak terberantas.
Pengasapan juga harus diikuti abatisasi dan PSN karena pengasapan hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa. Apabila tidak diikuti dengan abatisasi dan PSN, larva Aedes aegypti tidak dapat diberantas dan akan tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Larvisida yang digunakan untuk abatisasi (temefos) mempunyai efek residu selama 2–3 bulan. Jadi, bila dalam setahun dilakukan empat kali abatisasi maka selama setahun populasi nyamuk akan terkontrol dan dapat ditekan serendah-rendahnya.
Pemeriksaan jentik berkala dilakukan oleh juru pemantau jentik (jumantik) yang bertugas melakukan kunjungan rumah setiap tiga bulan. Hasil yang didapat jumantik dilaporkan dalam bentuk Angka Bebas Jentik (ABJ) yaitu rasio antara jumlah rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik dengan jumlah rumah/bangunan yang diperiksa dikali 100%. ABJ merupakan indikator penyebaran Ae. aegypti. Dengan strategi pemberantasan yang telah ditetapkan, ditargetkan ABJ dapat mencapai lebih dari 95%.
Sistem Peringatan Dini telah dilakukan oleh Malaysia dan terbukti efektif dalam menurunkan angka kejadian DBD. Pemerintah Indonesia perlu membentuk Sistem Peringatan Dini untuk memberikan peringatan dini bagi masyarakat setiap tahunnya sebelum terjadi KLB DBD sehingga masyarakat dapat mengantisipasinya. Sistem Peringatan Dini dapat memanfaatkan media elektronik sebagai sarana sosialisasi. Isi sosialisasi sebaiknya mencakup gejala khas DBD yaitu demam tinggi dan perdarahan terutama perdarahan kulit, serta apa yang harus dilakukan terhadap penderita DBD. Sosialisasi juga perlu mencakup upaya pemberantasan DBD yang efektif dan efisien seperti PSN dan upaya perlindungan diri, seperti pemasangan kelambu pada saat anak tidur siang, kawat kasa pada lubang ventilasi udara, dan memakai penolak nyamuk.
Hambatan lain dalam pemberantasan DBD adalah resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta, insektisida yang digunakan untuk pengasapan di wilayah Jakarta adalah malation yang telah digunakan secara masal sejak tahun 1969. Selain itu, juga digunakan temefos yang merupakan larvisida yaitu insektisida untuk membunuh larva Ae. aegypti yang telah digunakan secara masal sejak tahun 1980. Malation dan temefos mengandung bahan aktif organofosfat. Penggunaan insektisida tersebut dalam waktu lama dapat menimbulkan resistensi Ae.aegypti terhadap bahan aktifnya. Hal itu disebabkan pada saat pengasapan tidak semua Ae. aegypti terbunuh tetapi masih ada yang hidup karena nyamuk berhasil menghindar dari insektisida atau dosis insektisida yang kontak dengan nyamuk tidak mencukupi. Akibatnya nyamuk tersebut menjadi resisten dan resistensi itu diturunkan kepada keturunannya.
Sudah terdapat beberapa penelitian yang mendukung adanya resistensi tersebut. Mardihusodo menunjukkan bahwa larva Ae. aegypti di Yogyakarta cenderung resisten terhadap malation dan temefos. Selain itu, penelitian Gionar et al menunjukkan bahwa 90% Cx.quinquefasciatus di Jakarta dikategorikan resisten terhadap organofosfat dan 25% Ae. aegypti di Bandung resisten terhadap organofosfat.
Penelitian yang dilakukan Departemen Parasitologi bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta pada tahun 2007, melaporkan sebagian besar larva Ae. aegypti di Tanjung Priok telah resisten terhadap insektisida organofosfat yaitu 44,8 % resisten sedang dan 50% sangat resisten. Di Mampang Prapatan, sebagian besar larva Ae. aegypti juga telah resisten terhadap insektisida organofosfat yaitu 57,2% resisten sedang dan 9,8% sangat resisten.
Dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, penelitian mengenai pengendalian vektor DBD di Indonesia masih tertinggal karena keterbatasan dana.
Peningkatan anggaran untuk menunjang penelitian terhadap virus dengue maupun nyamuk Ae. aegypti dapat mendorong keberhasilan pemberantasan DBD. Diperlukan penelitian untuk mencari sistem pengendalian vektor DBD dengan berbagai cara antara lain pemberantasan biologik yang lebih aman, efektif, dan dapat diterima oleh penduduk. Juga diperlukan penelitian yang dapat menciptakan rekayasa genetika pada Ae.aegypti sehingga nyamuk tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya.
Juga diperlukan untuk mencari sistem pengendalian vektor DBD dengan cara lain misalnya mengintegrasikan teknik biologi molekuler. Saat ini penelitian fase I dari sekuens genom Ae. aegypti telah selesai dilakukan oleh The Institute of Genomic Research dan Universitas Notre Dame. Selanjutnya adalah menentukan Transposable Element (TE) pada genome Ae. aegypti. TE merupakan segmen asam nukleat (materi genetik) yang berpengaruh secara signifikan terhadap struktur dan ukuran genom Ae. aegypti. TE dapat digunakan untuk mempelajari interaksi nyamuk dengan patogen sehingga dapat digunakan untuk pemberantasan penyakit. Caranya adalah dengan memasukkan gen yang membuat nyamuk kebal terhadap infeksi virus DBD sehingga tidak lagi berperan sebagai vektor DBD. Hal tersebut memberikan harapan untuk memberantas DBD secara genetik (genetic control) di masa mendatang.
Akhir-akhir ini, upaya pemberantasan DBD yang hangat dibicarakan adalah vaksin dengue, namun sampai saat ini vaksin itu belum tersedia karena terbatasnya dana penelitian. Kesulitan lain yang dihadapi adalah vaksin harus dapat mencegah infeksi dari keempat serotipe virus dengue. Kendala lain yang dihadapi adalah kesulitan memprediksi apakah vaksin dengue tersebut benar-benar efektif karena sampai saat ini penelitian baru dilakukan terhadap model binatang yang tidak menimbulkan gejala DBD seperti pada manusia. Kita masih harus menunggu sampai vaksin benar-benar siap dan dapat digunakan secara masal. (Felix)
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=642
Beras Merah Ampuh Obati Pasien Demam Berdarah
Beras merah bisa digunakan untuk meningkatkan trombosit bagi penderita demam berdarah (DB). Ada zat dalam beras merah yakni lovastatin yang diambil untuk jadi obat meningkatkan trombosit.
Tapi obat yang diambil dari beras merah ini hanya dianjurkan untuk penderita DB dewasa. Bagi anak-anak tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi obat dari beras merah tersebut. Pasalnya anti bodi pada anak-anak belum terbentuk, sehingga dikhawatirkan menimbulkan efek samping.
Obat dari beras merah ini diberikan saat penderita didiagnosa pertama kali terkena demam berdarah. Obat diberikan 3 x 1 dalam sehari dalam bentuk kapsul. Obat ini tidak bisa dibuat sembarangan karena difermentasi secara khusus di pabrik farmasi.
Sementara untuk jangka panjang, obat beras merah ini bisa digunakan menurunkan kolesterol.
http://getnew-information.blogspot.com/2009/06/beras-merah-ampuh-obati-pasien-demam.html
Jum
05
Peb
2010
Demam Berdarah Dengue (2)
Written by Nita, Khuswatun, dkk Published in: Kesehatan Comments 0 Pdf Print Email
Pengendalian Populasi Aedes sp
Strategi pemberantasan DBD lebih ditekankan pada upaya preventif, melaksanakan penyemprotan massal sebelum musim penularan di daerah endemis, yang merupakan pusat penyebaran penyakit ke wilayah lainnya. Strategi itu diperkuat dengan menggalakkan pembinaan peran serta masyarakat, dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, melaksanakan penanggulangan fokus di rumah penderita dan disekitar tempat tinggal penderita guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), dan melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat melalui berbagai media(Sungkar, 2005b).
Pemberantasan vektor terutama ditujukan untuk memutuskan rantai penularan. Pada dasarnya ada 3 cara intervensi yang biasa digunakan: pengelolaan lingkungan, biologik dan kimiawi (Sugito, 1990).
Pengelolaan lingkungan ini adalah mengusahakan agar kondisi lingkungan tidak atau kurang disenangi nyamuk sehingga umur nyamuk berkurang dan tidak mempunyai kesempatan untuk menularkan penyakit atau mengusahakan agar kontak antara nyamuk dan manusia berkurang serta menghalangi proses perkembangbiakan nyamuk. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan menambah pencahayaan ruangan, mengurangi tanaman perdu, tidak membiasakan menggantung pakaian, menutup kontainer, menguras kontainer secara rutin, dan lain-lain (Sugito, 1990).
Intervensi biologis dilakukan dengan memanfaatkan musuh-musuh nyamuk yang ada di alam. Ikan kepala timah dan beberapa jenis ikan hias serta larva Toxorhinchites spp diketahui merupakan predator jentik nyamuk (Sugito, 1990). Intervensi kimiawi adalah pemberantasan nyamuk dengan menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang banyak digunakan adalah golongan organofosfat. Malathion digunakan untuk memberantas nyamuk dewasa, sedang temephos digunakan untuk jentiknya (Sugito, 1990)
1. Survei larva
Survei adalah penyelidikan informasi secara sistematis tetapi tidak menggunakan metode eksperimental (Abramson, 1984). Survei entomologi DBD yang mempelajari ekologi vektor, cara pemberantasan vektor dan cara-cara menilai hasil pemberantasan vektor, diperlukan untuk menunjang keberhasilan pemberantasan nyamuk vektor (Depkes RI, 1990).
Pengamatan vektor harus dilakukan secara rutin meliputi studi ekologi dan epidemiologi. Secara khusus hal-hal yang harus diperoleh di survei vektor DBD adalah:
a. Menentukan daerah yang berisiko tinggi (daerah dengan kepadatan vektor tinggi dan kasus endemik tinggi) dengan cara menentukan area berdasarkan distribusi vektor dan adanya kasus DBD, sehingga area ini dapat diberikan prioritas penanganan baik pada situasi normal maupun pada saat wabah terjadi.
b. Melalui pengamatan rutin perubahan dalam kepadatan vektor, distribusi dan parameter lain yang berhubungan dengan kapasitas vektorial.
c. Menentukan fluktuasi jumlah populasi vektor berdasarkan musim.
d. Menentukan tempat perkembangbiakan utama nyamuk (breeding sites) sehingga dengan partisipasi masyarakat, breeding sites dapat dieliminasi (Pant and Self, 1993).
Secara garis besar survei vektor DBD dapat dibedakan menjadi survei larva dan survei nyamuk dewasa.Ada dua jenis metode survei larva, yaitu:
Metode Survei Jentik:
1) Single larva
Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.
2) Visual
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Ukuran-ukuran yang digunakan untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti:
(a) Angka Bebas Jentik (ABJ):
Jumlah rumah tidak di temukan jentik X100%
Jumlah rumah yang diperiksa
(b) House indeks (HI)
Jumlah rumah yang di temukan jentik X100%
Jumlah rumah yang diperiksa
(c) Container index (CI)
Jumlah Container dengan jentik X 100%
Jumlah Container yang diperiksa
(d) Breteau index (BI) yaitu jumlah wadah yang positif terdapat jentik dalam 100 rumah.
Container: tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat berkembang-biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Angka Bebas Jentik dan House Index lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk di suatu wilayah. House index kurang dari 10% menggambarkan kecepatan penularan DBD rendah, sedangkan jika house index lebih dari 10% menggambarkan potensial terjadinya penularan DBD.
http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/447-demam-berdarah-dengue-2.html
komentar
Tapi obat yang diambil dari beras merah ini hanya dianjurkan untuk penderita DB dewasa. Bagi anak-anak tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi obat dari beras merah tersebut. Pasalnya anti bodi pada anak-anak belum terbentuk, sehingga dikhawatirkan menimbulkan efek samping.
Obat dari beras merah ini diberikan saat penderita didiagnosa pertama kali terkena demam berdarah. Obat diberikan 3 x 1 dalam sehari dalam bentuk kapsul. Obat ini tidak bisa dibuat sembarangan karena difermentasi secara khusus di pabrik farmasi.
Sementara untuk jangka panjang, obat beras merah ini bisa digunakan menurunkan kolesterol.
http://getnew-information.blogspot.com/2009/06/beras-merah-ampuh-obati-pasien-demam.html
Jum
05
Peb
2010
Demam Berdarah Dengue (2)
Written by Nita, Khuswatun, dkk Published in: Kesehatan Comments 0 Pdf Print Email
Pengendalian Populasi Aedes sp
Strategi pemberantasan DBD lebih ditekankan pada upaya preventif, melaksanakan penyemprotan massal sebelum musim penularan di daerah endemis, yang merupakan pusat penyebaran penyakit ke wilayah lainnya. Strategi itu diperkuat dengan menggalakkan pembinaan peran serta masyarakat, dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, melaksanakan penanggulangan fokus di rumah penderita dan disekitar tempat tinggal penderita guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), dan melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat melalui berbagai media(Sungkar, 2005b).
Pemberantasan vektor terutama ditujukan untuk memutuskan rantai penularan. Pada dasarnya ada 3 cara intervensi yang biasa digunakan: pengelolaan lingkungan, biologik dan kimiawi (Sugito, 1990).
Pengelolaan lingkungan ini adalah mengusahakan agar kondisi lingkungan tidak atau kurang disenangi nyamuk sehingga umur nyamuk berkurang dan tidak mempunyai kesempatan untuk menularkan penyakit atau mengusahakan agar kontak antara nyamuk dan manusia berkurang serta menghalangi proses perkembangbiakan nyamuk. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan menambah pencahayaan ruangan, mengurangi tanaman perdu, tidak membiasakan menggantung pakaian, menutup kontainer, menguras kontainer secara rutin, dan lain-lain (Sugito, 1990).
Intervensi biologis dilakukan dengan memanfaatkan musuh-musuh nyamuk yang ada di alam. Ikan kepala timah dan beberapa jenis ikan hias serta larva Toxorhinchites spp diketahui merupakan predator jentik nyamuk (Sugito, 1990). Intervensi kimiawi adalah pemberantasan nyamuk dengan menggunakan bahan kimia. Bahan kimia yang banyak digunakan adalah golongan organofosfat. Malathion digunakan untuk memberantas nyamuk dewasa, sedang temephos digunakan untuk jentiknya (Sugito, 1990)
1. Survei larva
Survei adalah penyelidikan informasi secara sistematis tetapi tidak menggunakan metode eksperimental (Abramson, 1984). Survei entomologi DBD yang mempelajari ekologi vektor, cara pemberantasan vektor dan cara-cara menilai hasil pemberantasan vektor, diperlukan untuk menunjang keberhasilan pemberantasan nyamuk vektor (Depkes RI, 1990).
Pengamatan vektor harus dilakukan secara rutin meliputi studi ekologi dan epidemiologi. Secara khusus hal-hal yang harus diperoleh di survei vektor DBD adalah:
a. Menentukan daerah yang berisiko tinggi (daerah dengan kepadatan vektor tinggi dan kasus endemik tinggi) dengan cara menentukan area berdasarkan distribusi vektor dan adanya kasus DBD, sehingga area ini dapat diberikan prioritas penanganan baik pada situasi normal maupun pada saat wabah terjadi.
b. Melalui pengamatan rutin perubahan dalam kepadatan vektor, distribusi dan parameter lain yang berhubungan dengan kapasitas vektorial.
c. Menentukan fluktuasi jumlah populasi vektor berdasarkan musim.
d. Menentukan tempat perkembangbiakan utama nyamuk (breeding sites) sehingga dengan partisipasi masyarakat, breeding sites dapat dieliminasi (Pant and Self, 1993).
Secara garis besar survei vektor DBD dapat dibedakan menjadi survei larva dan survei nyamuk dewasa.Ada dua jenis metode survei larva, yaitu:
Metode Survei Jentik:
1) Single larva
Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.
2) Visual
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Ukuran-ukuran yang digunakan untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti:
(a) Angka Bebas Jentik (ABJ):
Jumlah rumah tidak di temukan jentik X100%
Jumlah rumah yang diperiksa
(b) House indeks (HI)
Jumlah rumah yang di temukan jentik X100%
Jumlah rumah yang diperiksa
(c) Container index (CI)
Jumlah Container dengan jentik X 100%
Jumlah Container yang diperiksa
(d) Breteau index (BI) yaitu jumlah wadah yang positif terdapat jentik dalam 100 rumah.
Container: tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat berkembang-biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Angka Bebas Jentik dan House Index lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk di suatu wilayah. House index kurang dari 10% menggambarkan kecepatan penularan DBD rendah, sedangkan jika house index lebih dari 10% menggambarkan potensial terjadinya penularan DBD.
http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/447-demam-berdarah-dengue-2.html
komentar
Metropolis..... Virus Baru Demam Berdarah
Rabu, 27 Januari 2010
Metropolis..... Virus Baru Demam Berdarah
Surabaya -- Hati-hati dan waspadai gejala demam berdarah jika ada anggota keluarga yang terkena. Sebab, saat ini ada varian virus baru penyakit ini. Apalagi jika Anda sering berpindah dari satu kota ke kota lain.
Ahli penyakit tropis dari RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Prof Dr. Soegeng Soegijanto, SpA (K), menuturkan dari penelitian yang dilakukan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga, Surabaya, varian baru virus demam berdarah ini lebih ganas.
Kata dia, penelitian yang dilakukan sejak 2004 itu dilakukan dengan mengumpulkan seluruh virus Demam Berdarah yang ada di kota-kota besar. Mulai dari Jakarta, Surabaya, Solo, Yogjakarta, Semarang, Malang, Manado, Medan serta beberapa daerah lainnya di Indonesia.
Hasilnya, kata dia, virus DB yang menyerang orang-orang di kota besar ternyata berbeda-beda. Apalagi, kata dia, kalau penderita memiliki pengalaman pergi keluar negeri seperti Jepang atau Amerika. Virus DB yang menyerangnya pun juga berbeda dengan orang yang tidak pernah ke luar negeri. "Virus ini kemudian kami sepakati dengan nama virus metropolis," kata Soegijanto, Selasa kemarin.
Menurut dia, gejala virus DB Metropolis ini sangat unik. Penderita, kata dia, bisa saja tidak menderita panas tapi kadang juga panasnya naik turun dua sampai tiga hari dengan trombosit yang tinggi. Namun, tiba-tiba trombositnya bisa langsung turun seketika. "Gejala ini hampir tidak bisa diprediksi dokter biasa."
Karennya, ia menghimbau para dokter bisa melakukan pemeriksaan pasien dengan lebih teliti. "Kalau perlu segera lakukan pemeriksaan darah jangan sampai virus ini menyerang hati," ujarnya. "Dokter harus waspada dengan memantau keadaan pasien selama 24 jam."
Metropolis..... Virus Baru Demam Berdarah
Surabaya -- Hati-hati dan waspadai gejala demam berdarah jika ada anggota keluarga yang terkena. Sebab, saat ini ada varian virus baru penyakit ini. Apalagi jika Anda sering berpindah dari satu kota ke kota lain.
Ahli penyakit tropis dari RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Prof Dr. Soegeng Soegijanto, SpA (K), menuturkan dari penelitian yang dilakukan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga, Surabaya, varian baru virus demam berdarah ini lebih ganas.
Kata dia, penelitian yang dilakukan sejak 2004 itu dilakukan dengan mengumpulkan seluruh virus Demam Berdarah yang ada di kota-kota besar. Mulai dari Jakarta, Surabaya, Solo, Yogjakarta, Semarang, Malang, Manado, Medan serta beberapa daerah lainnya di Indonesia.
Hasilnya, kata dia, virus DB yang menyerang orang-orang di kota besar ternyata berbeda-beda. Apalagi, kata dia, kalau penderita memiliki pengalaman pergi keluar negeri seperti Jepang atau Amerika. Virus DB yang menyerangnya pun juga berbeda dengan orang yang tidak pernah ke luar negeri. "Virus ini kemudian kami sepakati dengan nama virus metropolis," kata Soegijanto, Selasa kemarin.
Menurut dia, gejala virus DB Metropolis ini sangat unik. Penderita, kata dia, bisa saja tidak menderita panas tapi kadang juga panasnya naik turun dua sampai tiga hari dengan trombosit yang tinggi. Namun, tiba-tiba trombositnya bisa langsung turun seketika. "Gejala ini hampir tidak bisa diprediksi dokter biasa."
Karennya, ia menghimbau para dokter bisa melakukan pemeriksaan pasien dengan lebih teliti. "Kalau perlu segera lakukan pemeriksaan darah jangan sampai virus ini menyerang hati," ujarnya. "Dokter harus waspada dengan memantau keadaan pasien selama 24 jam."
Temuan Baru Mengendalikan Nyamuk Demam Berdarah
Cornell - Demam berdarah masih menjadi ancaman penduduk dunia. Dan, hingga kini belum ada vaksin untuk melindungi diri dari penyakit yang disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti ini. Karena itu, untuk mengendalikan penyebaran virus ini hanya dengan membasmi nyamuk.
Baru-baru ini para peneliti dari Cornell`s College of Veterinary Medicine, Amerika Serikat, menemukan protein yang bisa menjadi cara baru untuk mengendalikan Aedes aegypti. Temuan ini dimuat di American Journal of Physiology -- Regulatory edisi 4 Maret 2010.
Peneliti telah mengidentifikasi sebuah protein pada urin si nyamuk Aedes aegypti. Ketika menyedot darah manusia, pada saat yang sama si nyamuk mengeluarkan urin yang membantu agar darah yang sedang diisap tidak membeku. Urin yang dikeluarkan nyamuk itu juga mencegah agar kadar garam di dalam darah yang sedang disedot itu tidak berlebihan. Sebab, jika berlebihan, bisa menyebabkan kematian bagi Aedes aegypti. Protein pada urin tersebut, menurut penelitian yang dilakukan Piermarini, Beyenbach, dan kawan-kawan, berperan untuk memperlancar keluarnya urin nyamuk.
Hasil penelitian ini bisa diarahkan untuk mengembangkan insektisida baru yang bisa mengacaukan sistem ginjal nyamuk, yang berkontribusi memperpendek usia nyamuk setelah mengisap darah.
Sumber : TEMPO News
http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=18&menuType=1&SubID=2&DetId=516
Baru-baru ini para peneliti dari Cornell`s College of Veterinary Medicine, Amerika Serikat, menemukan protein yang bisa menjadi cara baru untuk mengendalikan Aedes aegypti. Temuan ini dimuat di American Journal of Physiology -- Regulatory edisi 4 Maret 2010.
Peneliti telah mengidentifikasi sebuah protein pada urin si nyamuk Aedes aegypti. Ketika menyedot darah manusia, pada saat yang sama si nyamuk mengeluarkan urin yang membantu agar darah yang sedang diisap tidak membeku. Urin yang dikeluarkan nyamuk itu juga mencegah agar kadar garam di dalam darah yang sedang disedot itu tidak berlebihan. Sebab, jika berlebihan, bisa menyebabkan kematian bagi Aedes aegypti. Protein pada urin tersebut, menurut penelitian yang dilakukan Piermarini, Beyenbach, dan kawan-kawan, berperan untuk memperlancar keluarnya urin nyamuk.
Hasil penelitian ini bisa diarahkan untuk mengembangkan insektisida baru yang bisa mengacaukan sistem ginjal nyamuk, yang berkontribusi memperpendek usia nyamuk setelah mengisap darah.
Sumber : TEMPO News
http://www.penyakitmenular.info/def_menu.asp?menuID=18&menuType=1&SubID=2&DetId=516
Penanganan Wabah DBD Tahun 2007, Kinerja Pemerintah tidak Memuaskan
Penanganan Wabah DBD Tahun 2007, Kinerja Pemerintah tidak Memuaskan
Tanggal : 20 Feb 2008
Sumber : Media Indonesia
Prakarsa Rakyat,
Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) 2007 naik cukup tajam. Demikian pula jumlah penderita yang meninggal akibat virus yang ditularkan nyamuk tersebut. Meski kerap dilanda wabah setiap tahun, Indonesia masih gagal mengantisipasinya, seakan tidak pernah belajar dari pengalaman.
Penyakit DBD sudah menjadi problem kesehatan yang selalu muncul berulang setiap tahun. Sebagai daerah beriklim tropis, Indonesia tidak mungkin terbebas dari penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu. Laporan Departemen Kesehatan (2006) menyebutkan penyakit itu sudah menjadi masalah yang endemik di 122 daerah tingkat II, 605 kecamatan, dan 1.800 desa atau kelurahan. Tak mengherankan jika penderita DBD akhirnya selalu ada hampir sepanjang waktu dalam satu tahun.
Meski demikian, wabah tidak akan terjadi seandainya kita pandai mengantisipasinya. Meski sudah dimaklumi wabah akan memuncak di musim hujan dan peralihannya ke musim kemarau, kerap kali kita lalai mengantisipasinya.
Biasanya kurang ada upaya yang sistematis untuk mengantisipasi berkembangnya penularan virus dengue. Gerakan menguras, menutup, dan menimbun (3M) baru dikampanyekan setelah DBD mewabah, bukan di awal musim hujan saat wabah belum terjadi. Para juru pemantau jentik (jumantik) pun baru belakangan dikerahkan. Sementara itu, di hari-hari lainnya, langkah-langkah tersebut dilupakan sampai saatnya nanti wabah kembali datang.
Data yang dikeluarkan WHO dan Depkes menunjukkan pada 2007 jumlah kasus DBD melonjak menjadi 139.695 kasus atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Dalam tiga tahun terakhir memang sudah terlihat jumlah kasus DBD cenderung menanjak cukup tajam. Jumlah kasus DBD 2001-2007 jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan dekade 1990-an. Kasus DBD di era 1990-an melonjak tajam hanya pada 1998. Tidak diketahui jelas, apakah kasus 1998 itu berhubungan dengan situasi politik nasional saat itu yang sedang mengalami turbulensi? Namun secara umum jumlah kasus DBD yang terjadi pada kurun 2001-2007 membengkak luar biasa jika dibandingkan dengan dekade 1990-an.
Data yang dikeluarkan WHO dan Depkes juga menunjukkan 2007 tercatat sebagai tahun dengan jumlah korban meninggal terbesar sejak wabah 1998. Pada 2007, Depkes melaporkan ada 1.395 korban wabah yang akhirnya meninggal dunia, hampir menyamai jumlah korban wabah yang meninggal pada 1998, saat puncak tertinggi kasus DBD dekade 1990-an.
Yang juga menarik adalah melihat data jumlah kasus pada dekade 1980-an. Pada dekade tersebut, puncak tertinggi kasus DBD terjadi pada 1988, tercatat ada 44.573 kasus DBD dan 1.527 korban meninggal. Sementara itu, puncak tertinggi kasus DBD pada dekade 1990-an terjadi pada 1998. Apakah itu berarti puncak tertinggi kasus DBD di dekade 2000-an bakal meledak pada 2008? Jika kita masih tetap lamban mengantisipasinya, mungkin saja 2008 ini kita akan dihantam wabah DBD yang paling dahsyat.
Serangkaian kasus wabah penyakit seperti DBD yang terus meningkat jumlahnya membuktikan kedatangan wabah lepas dari pantauan petugas dinas kesehatan. Itu karena kegiatan pemantauan dan pemetaan tidak merata dilakukan di semua wilayah. Hal itu pernah diakui oleh Depkes, melalui kajian Litbang Depkes yang menemukan kinerja surveillance penyakit-penyakit menular ternyata tidak merata di seluruh Indonesia.
Hasil evaluasi dan intervensi Depkes juga menemukan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia diakibatkan beragam faktor. Pertama, pada dasarnya penyakit menular masih bersifat endemik di beberapa wilayah. Itu menyebabkan sewaktu-waktu mungkin bisa terjadi KLB. Faktor kedua adalah lemahnya sistem kewaspadaan dini sehingga penanganan dan pengobatan kasus sebagai intervensi belum dilakukan sebagaimana mestinya. Ketiga adalah kemudahan alat transportasi memungkinkan pergerakan/perpindahan alat angkut, penumpang, bahan/barang, dan alat dari satu wilayah ke wilayah lainnya yang merupakan daerah endemik. Ketiga faktor itu kemudian diperparah dengan lemahnya kesadaran masyarakat akan paradigma hidup sehat dan kesadaran pada kondisi lingkungan sekitar sebagai faktor risiko penyebaran penyakit.
Selama ini, langkah yang dilakukan Depkes untuk mengatasi wabah adalah memfasilitasi daerah (provinsi dan kota/kabupaten) dalam bentuk pedoman dan standar penanggulangan KLB. Depkes juga berupaya meningkatkan sistem kewaspadaan dini (SKD) di setiap jenjang administrasi pemerintahan dalam melakukan antisipasi terjadinya wabah. Melalui jenjang birokrasi demikian, diharapkan pemetaan potensi wabah-wabah penyakit bisa dilakukan lebih baik. Namun seperti yang kita alami sekarang, berbagai wabah penyakit terjadi di mana-mana tak tertahankan. Karena itu, sekarang kita patut pertanyakan, sejauh mana langkah-langkah dalam sistem kewaspadaan dini tadi sudah berjalan.
Sekitar satu tahun lalu, persisnya 22 Februari 2007, Litbang Media Group pernah melakukan pengumpulan pendapat umum melalui telepon kepada masyarakat di enam kota besar di Indonesia, yaitu Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Survei itu mencakup 479 responden dewasa yang dipilih secara acak dari buku petunjuk telepon residensial di kota-kota tersebut. Hasil survei tersebut tidak dimaksudkan mewakili pendapat seluruh masyarakat Indonesia, namun hanya masyarakat pemilik telepon residensial di kota-kota tersebut. Margin of error survei ini plus minus 4,6% pada tingkat kepercayaan 95%.
Pertama, survei ini meminta penilaian publik, apakah puas atau tidak puas dengan kinerja pemerintah kota tempat mereka tinggal dalam hal menangani wabah demam berdarah. Hasil survei menunjukkan lebih banyak yang menilai tidak puas 54%, yang menilai puas ada 38%.
Salah satu antisipasi mewabahnya DBD adalah dengan memantau keberadaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah warga. Untuk itu kelurahan atau dinas kesehatan mengerahkan juru pemantau jentik (jumantik). Bagaimana praktiknya, apakah memang ada petugas pemantau jentik nyamuk datang ke rumah-rumah menjelang wabah datang?
Hasil survei menunjukkan mayoritas 61% mengaku tidak ada satu pun petugas dari kelurahan atau dinas kesehatan yang datang ke rumah-rumah sekitar mereka untuk memantau jentik nyamuk. Data itu menjadi indikasi langkah-langkah antisipatif menjelang wabah terjadi saat itu tidak dilakukan oleh pemerintah.
Hasil survei melalui telepon tadi mungkin bisa menjadi indikasi kenapa wabah DBD masih kerap terjadi dengan memakan korban jiwa yang begitu banyak, seperti yang tercatat sepanjang 2007. Langkah-langkah antisipatif, seperti pemantauan jentik nyamuk dan peringatan pada masyarakat menjelang datang musim hujan terlambat digalakkan. Ketiadaan upaya sistematis untuk mengantisipasi berkembangnya penularan virus dengue sebelum musimnya terjadi itulah yang membuat setiap tahunnya korban yang terjangkiti dan meninggal akibat demam berdarah senantiasa tinggi.
Kunci penanggulangan wabah penyakit dan pemeliharaan kesehatan masyarakat adalah pengawasan yang ketat untuk pelaporan dini dan diagnosis wabah penyakit. Pemerintah mungkin terlambat dalam menerima laporan kasus dari lokasi wabah. Akibatnya tentu saja pemerintah juga terlambat merespons situasi darurat tersebut sehingga berpengaruh terhadap kecepatan dan ketepatan tindakan yang diambil di lapangan.
Keberadaan jumantik sesungguhnya amat penting dalam pemberantasan demam berdarah karena bertugas memantau populasi nyamuk penular DBD dan jentiknya. Pemerintah perlu lebih serius untuk mengerahkan dan memanfaatkan keberadaan para jumantik hingga lingkungan masyarakat terkecil seperti RT dan RW. Tanpa kepemimpinan daerah yang kuat dan dukungan aparat pemda hingga level terendah, penanggulangan wabah akan terus buruk. Zulfahmi, Litbang Media Group
Tanggal : 20 Feb 2008
Sumber : Media Indonesia
Prakarsa Rakyat,
Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) 2007 naik cukup tajam. Demikian pula jumlah penderita yang meninggal akibat virus yang ditularkan nyamuk tersebut. Meski kerap dilanda wabah setiap tahun, Indonesia masih gagal mengantisipasinya, seakan tidak pernah belajar dari pengalaman.
Penyakit DBD sudah menjadi problem kesehatan yang selalu muncul berulang setiap tahun. Sebagai daerah beriklim tropis, Indonesia tidak mungkin terbebas dari penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu. Laporan Departemen Kesehatan (2006) menyebutkan penyakit itu sudah menjadi masalah yang endemik di 122 daerah tingkat II, 605 kecamatan, dan 1.800 desa atau kelurahan. Tak mengherankan jika penderita DBD akhirnya selalu ada hampir sepanjang waktu dalam satu tahun.
Meski demikian, wabah tidak akan terjadi seandainya kita pandai mengantisipasinya. Meski sudah dimaklumi wabah akan memuncak di musim hujan dan peralihannya ke musim kemarau, kerap kali kita lalai mengantisipasinya.
Biasanya kurang ada upaya yang sistematis untuk mengantisipasi berkembangnya penularan virus dengue. Gerakan menguras, menutup, dan menimbun (3M) baru dikampanyekan setelah DBD mewabah, bukan di awal musim hujan saat wabah belum terjadi. Para juru pemantau jentik (jumantik) pun baru belakangan dikerahkan. Sementara itu, di hari-hari lainnya, langkah-langkah tersebut dilupakan sampai saatnya nanti wabah kembali datang.
Data yang dikeluarkan WHO dan Depkes menunjukkan pada 2007 jumlah kasus DBD melonjak menjadi 139.695 kasus atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Dalam tiga tahun terakhir memang sudah terlihat jumlah kasus DBD cenderung menanjak cukup tajam. Jumlah kasus DBD 2001-2007 jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan dekade 1990-an. Kasus DBD di era 1990-an melonjak tajam hanya pada 1998. Tidak diketahui jelas, apakah kasus 1998 itu berhubungan dengan situasi politik nasional saat itu yang sedang mengalami turbulensi? Namun secara umum jumlah kasus DBD yang terjadi pada kurun 2001-2007 membengkak luar biasa jika dibandingkan dengan dekade 1990-an.
Data yang dikeluarkan WHO dan Depkes juga menunjukkan 2007 tercatat sebagai tahun dengan jumlah korban meninggal terbesar sejak wabah 1998. Pada 2007, Depkes melaporkan ada 1.395 korban wabah yang akhirnya meninggal dunia, hampir menyamai jumlah korban wabah yang meninggal pada 1998, saat puncak tertinggi kasus DBD dekade 1990-an.
Yang juga menarik adalah melihat data jumlah kasus pada dekade 1980-an. Pada dekade tersebut, puncak tertinggi kasus DBD terjadi pada 1988, tercatat ada 44.573 kasus DBD dan 1.527 korban meninggal. Sementara itu, puncak tertinggi kasus DBD pada dekade 1990-an terjadi pada 1998. Apakah itu berarti puncak tertinggi kasus DBD di dekade 2000-an bakal meledak pada 2008? Jika kita masih tetap lamban mengantisipasinya, mungkin saja 2008 ini kita akan dihantam wabah DBD yang paling dahsyat.
Serangkaian kasus wabah penyakit seperti DBD yang terus meningkat jumlahnya membuktikan kedatangan wabah lepas dari pantauan petugas dinas kesehatan. Itu karena kegiatan pemantauan dan pemetaan tidak merata dilakukan di semua wilayah. Hal itu pernah diakui oleh Depkes, melalui kajian Litbang Depkes yang menemukan kinerja surveillance penyakit-penyakit menular ternyata tidak merata di seluruh Indonesia.
Hasil evaluasi dan intervensi Depkes juga menemukan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia diakibatkan beragam faktor. Pertama, pada dasarnya penyakit menular masih bersifat endemik di beberapa wilayah. Itu menyebabkan sewaktu-waktu mungkin bisa terjadi KLB. Faktor kedua adalah lemahnya sistem kewaspadaan dini sehingga penanganan dan pengobatan kasus sebagai intervensi belum dilakukan sebagaimana mestinya. Ketiga adalah kemudahan alat transportasi memungkinkan pergerakan/perpindahan alat angkut, penumpang, bahan/barang, dan alat dari satu wilayah ke wilayah lainnya yang merupakan daerah endemik. Ketiga faktor itu kemudian diperparah dengan lemahnya kesadaran masyarakat akan paradigma hidup sehat dan kesadaran pada kondisi lingkungan sekitar sebagai faktor risiko penyebaran penyakit.
Selama ini, langkah yang dilakukan Depkes untuk mengatasi wabah adalah memfasilitasi daerah (provinsi dan kota/kabupaten) dalam bentuk pedoman dan standar penanggulangan KLB. Depkes juga berupaya meningkatkan sistem kewaspadaan dini (SKD) di setiap jenjang administrasi pemerintahan dalam melakukan antisipasi terjadinya wabah. Melalui jenjang birokrasi demikian, diharapkan pemetaan potensi wabah-wabah penyakit bisa dilakukan lebih baik. Namun seperti yang kita alami sekarang, berbagai wabah penyakit terjadi di mana-mana tak tertahankan. Karena itu, sekarang kita patut pertanyakan, sejauh mana langkah-langkah dalam sistem kewaspadaan dini tadi sudah berjalan.
Sekitar satu tahun lalu, persisnya 22 Februari 2007, Litbang Media Group pernah melakukan pengumpulan pendapat umum melalui telepon kepada masyarakat di enam kota besar di Indonesia, yaitu Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Survei itu mencakup 479 responden dewasa yang dipilih secara acak dari buku petunjuk telepon residensial di kota-kota tersebut. Hasil survei tersebut tidak dimaksudkan mewakili pendapat seluruh masyarakat Indonesia, namun hanya masyarakat pemilik telepon residensial di kota-kota tersebut. Margin of error survei ini plus minus 4,6% pada tingkat kepercayaan 95%.
Pertama, survei ini meminta penilaian publik, apakah puas atau tidak puas dengan kinerja pemerintah kota tempat mereka tinggal dalam hal menangani wabah demam berdarah. Hasil survei menunjukkan lebih banyak yang menilai tidak puas 54%, yang menilai puas ada 38%.
Salah satu antisipasi mewabahnya DBD adalah dengan memantau keberadaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah warga. Untuk itu kelurahan atau dinas kesehatan mengerahkan juru pemantau jentik (jumantik). Bagaimana praktiknya, apakah memang ada petugas pemantau jentik nyamuk datang ke rumah-rumah menjelang wabah datang?
Hasil survei menunjukkan mayoritas 61% mengaku tidak ada satu pun petugas dari kelurahan atau dinas kesehatan yang datang ke rumah-rumah sekitar mereka untuk memantau jentik nyamuk. Data itu menjadi indikasi langkah-langkah antisipatif menjelang wabah terjadi saat itu tidak dilakukan oleh pemerintah.
Hasil survei melalui telepon tadi mungkin bisa menjadi indikasi kenapa wabah DBD masih kerap terjadi dengan memakan korban jiwa yang begitu banyak, seperti yang tercatat sepanjang 2007. Langkah-langkah antisipatif, seperti pemantauan jentik nyamuk dan peringatan pada masyarakat menjelang datang musim hujan terlambat digalakkan. Ketiadaan upaya sistematis untuk mengantisipasi berkembangnya penularan virus dengue sebelum musimnya terjadi itulah yang membuat setiap tahunnya korban yang terjangkiti dan meninggal akibat demam berdarah senantiasa tinggi.
Kunci penanggulangan wabah penyakit dan pemeliharaan kesehatan masyarakat adalah pengawasan yang ketat untuk pelaporan dini dan diagnosis wabah penyakit. Pemerintah mungkin terlambat dalam menerima laporan kasus dari lokasi wabah. Akibatnya tentu saja pemerintah juga terlambat merespons situasi darurat tersebut sehingga berpengaruh terhadap kecepatan dan ketepatan tindakan yang diambil di lapangan.
Keberadaan jumantik sesungguhnya amat penting dalam pemberantasan demam berdarah karena bertugas memantau populasi nyamuk penular DBD dan jentiknya. Pemerintah perlu lebih serius untuk mengerahkan dan memanfaatkan keberadaan para jumantik hingga lingkungan masyarakat terkecil seperti RT dan RW. Tanpa kepemimpinan daerah yang kuat dan dukungan aparat pemda hingga level terendah, penanggulangan wabah akan terus buruk. Zulfahmi, Litbang Media Group
Demam Berdarah Dengue
Penanggung Jawab: Titte K. Adimidjaja
Editor: Tri Djoko Wahono
Tim Penulis: Kristina, Isminah, Leny Wulandari
I. PENDAHULUAN
Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini mengakibatkan sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien DBD. Untuk mengatasinya pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong rumah sakit serta merekrut tenaga medis dan paramedis. Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini.
Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% ). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%)
.
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.
Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun.
KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003).
Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun.
Departemen kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan.
II. EPIDEMIOLOGI
1. Penyebab
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga. 3
2. Gejala
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 °C- 40 °C)
b. Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
c. Hepatomegali (pembesaran hati).
d. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
e. Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000 /mm³.
f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.
g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala.
h. Pendarahan pada hidung dan gusi.
i. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
3. Masa Inkubasi
Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari.
4. Penularan
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.
Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.
5. Penyebaran
Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus sebagai berikut :
- Tahun 1996 : jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 1.234 orang.
- Tahun 1998 : jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 1.414 orang (terjadi ledakan)
- Tahun 1999 : jumlah kasus 21.134 orang.
- Tahun 2000 : jumlah kasus 33.443 orang.
- Tahun 2001 : jumlah kasus 45.904 orang
- Tahun 2002 : jumlah kasus 40.377 orang.
- Tahun 2003 : jumlah kasus 50.131 orang.
- Tahun 2004 : sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah
mencapai 26.015 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 389 orang.
III. PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:
Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.
2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “3M Plus”, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.
IV. PENGOBATAN
Pengobatan penderita Demam Berdarah adalah dengan cara:
• Penggantian cairan tubuh.
• Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter –2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
• Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit), kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5 menit.
V. KEBIJAKAN PEMERINTAH
Dalam rangka mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh penyakit demam berdarah, pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa kebijakan, di antaranya adalah:
a. Memerintahkan semua rumah sakit baik swasta maupun negeri untuk tidak menolak pasien yang menderita DBD.
b. Meminta direktur/direktur utama rumah sakit untuk memberikan pertolongan secepatnya kepada penderita DBD sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku serta membebaskan seluruh biaya pengobatan dan perawatan penderita yang tidak mampu sesuai program PKPS-BBM/ program kartu sehat . (SK Menkes No. 143/Menkes/II/2004 tanggal 20 Februari 2004).
c. Melakukan fogging secara massal di daerah yang banyak terkena DBD.
d. Membagikan bubuk Abate secara gratis pada daerah-daerah yang banyak terkena DBD. Melakukan penggerakan masyarakat untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M dan merekrut juru pemantau jentik (jumantik).
e. Penyebaran pamflet lewat udara tentang pentingnya melakukan gerakan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur).
f. Menurunkan tim bantuan teknis untuk membantu RS di daerah , yang terdiri dari unsur-unsur :
Ikatan Dokter Anak Indonesia
Persatuan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia
Asosiasi Rumah Sakit Daerah
g. Membantu propinsi yang mengalami KLB dengan dana masing-masing Rp. 500 juta, di luar bantuan gratis ke rumah sakit.
h. Mengundang konsultan WHO untuk memberikan pandangan, saran dan bantuan teknis.
i. Menyediakan “call center”.
DKI Jakarta, Pusadaldukes (021) 34835188 (24 jam)
DEPKES, Sub Direktorat Surveilans (021) 4265974, (021) 42802669
DEPKES, Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan (PPMK) (021) 5265043
j. Melakukan Kajian Sero-Epidemiologis untuk mengetahui penyebaran virus dengue.
VI. TINDAKAN BADAN LITBANG KESEHATAN
Dalam rangka membantu mengatasi penyakit Demam Berdarah, Badan Litbang Kesehatan telah melakukan beberapa penelitian, di antaranya :
1. Penelitian Seroepidemiologi Infeksi Virus Dengue pada Anak-anak dan Remaja di Mataram, Tahun1998.
2. Penelitian Evaluasi dan Pembinaan Pokja DBD Khususnya Ibu Dasa Wisma dalam Pelaksanaan Penanggulangan Penularan Penyakit DBD, Tahun 1999.
3. Penelitian Peningkatan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Berbasis Masyarakat dengan Pendekatan Pendidikan Kesehatan Masyarakat, Tahun 2000.
4. Penelitian Pengembangan Metode Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Daerah Endemis Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Tahun 2001.
5. Penelitian Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue di DKI Jakarta 2003.
6. Penelitian Wabah Demam Berdarah Dengue pada Sepuluh Rumah Sakit di DKI Jakarta Tahun 2004. (Penelitian ini sedang berlangsung).
Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilen dengan menggunakan teknologi informasi (Computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System ( EWORS ).
EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS (Badan Litbangkes. Depkes RI.) secara cepat.
Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia.
VII. KESIMPULAN
1. Penyebab penyakit DBD di Indonesia adalah Virus Dengue tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4.
2. Sejak Bulan Januari sampai dengan 5 Maret 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% )10. Kasus DHF tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) dan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%)
3. Perlu kewaspadaan yang tinggi terhadap penyakit DHF terutama pada musim penghujan.
4. Cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan “3M Plus” yang melibatkan seluruh masyarakat serta disesuaikan dengan kondisi setempat.
VIII. SARAN
1. Perlunya digalakkan “Gerakan 3 M plus” tidak hanya bila terjadi wabah tetapi harus dijadikan gerakan nasional melalui pendekatan masyarakat.
2. Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS) perlu dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Download PDF Version (67 KB)
Editor: Tri Djoko Wahono
Tim Penulis: Kristina, Isminah, Leny Wulandari
I. PENDAHULUAN
Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini mengakibatkan sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien DBD. Untuk mengatasinya pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong rumah sakit serta merekrut tenaga medis dan paramedis. Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini.
Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% ). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%)
.
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.
Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun.
KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003).
Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun.
Departemen kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan.
II. EPIDEMIOLOGI
1. Penyebab
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga. 3
2. Gejala
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 °C- 40 °C)
b. Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
c. Hepatomegali (pembesaran hati).
d. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
e. Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000 /mm³.
f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.
g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala.
h. Pendarahan pada hidung dan gusi.
i. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
3. Masa Inkubasi
Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari.
4. Penularan
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.
Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.
5. Penyebaran
Kasus penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila, Filipina pada tahun 1953. Kasus di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian sebanyak 24 orang. Beberapa tahun kemudian penyakit ini menyebar ke beberapa propinsi di Indonesia, dengan jumlah kasus sebagai berikut :
- Tahun 1996 : jumlah kasus 45.548 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 1.234 orang.
- Tahun 1998 : jumlah kasus 72.133 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 1.414 orang (terjadi ledakan)
- Tahun 1999 : jumlah kasus 21.134 orang.
- Tahun 2000 : jumlah kasus 33.443 orang.
- Tahun 2001 : jumlah kasus 45.904 orang
- Tahun 2002 : jumlah kasus 40.377 orang.
- Tahun 2003 : jumlah kasus 50.131 orang.
- Tahun 2004 : sampai tanggal 5 Maret 2004 jumlah kasus sudah
mencapai 26.015 orang, dengan jumlah kematian
sebanyak 389 orang.
III. PENCEGAHAN
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:
Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.
2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “3M Plus”, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.
IV. PENGOBATAN
Pengobatan penderita Demam Berdarah adalah dengan cara:
• Penggantian cairan tubuh.
• Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter –2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
• Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit), kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5 menit.
V. KEBIJAKAN PEMERINTAH
Dalam rangka mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh penyakit demam berdarah, pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa kebijakan, di antaranya adalah:
a. Memerintahkan semua rumah sakit baik swasta maupun negeri untuk tidak menolak pasien yang menderita DBD.
b. Meminta direktur/direktur utama rumah sakit untuk memberikan pertolongan secepatnya kepada penderita DBD sesuai dengan prosedur tetap yang berlaku serta membebaskan seluruh biaya pengobatan dan perawatan penderita yang tidak mampu sesuai program PKPS-BBM/ program kartu sehat . (SK Menkes No. 143/Menkes/II/2004 tanggal 20 Februari 2004).
c. Melakukan fogging secara massal di daerah yang banyak terkena DBD.
d. Membagikan bubuk Abate secara gratis pada daerah-daerah yang banyak terkena DBD. Melakukan penggerakan masyarakat untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M dan merekrut juru pemantau jentik (jumantik).
e. Penyebaran pamflet lewat udara tentang pentingnya melakukan gerakan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur).
f. Menurunkan tim bantuan teknis untuk membantu RS di daerah , yang terdiri dari unsur-unsur :
Ikatan Dokter Anak Indonesia
Persatuan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia
Asosiasi Rumah Sakit Daerah
g. Membantu propinsi yang mengalami KLB dengan dana masing-masing Rp. 500 juta, di luar bantuan gratis ke rumah sakit.
h. Mengundang konsultan WHO untuk memberikan pandangan, saran dan bantuan teknis.
i. Menyediakan “call center”.
DKI Jakarta, Pusadaldukes (021) 34835188 (24 jam)
DEPKES, Sub Direktorat Surveilans (021) 4265974, (021) 42802669
DEPKES, Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan (PPMK) (021) 5265043
j. Melakukan Kajian Sero-Epidemiologis untuk mengetahui penyebaran virus dengue.
VI. TINDAKAN BADAN LITBANG KESEHATAN
Dalam rangka membantu mengatasi penyakit Demam Berdarah, Badan Litbang Kesehatan telah melakukan beberapa penelitian, di antaranya :
1. Penelitian Seroepidemiologi Infeksi Virus Dengue pada Anak-anak dan Remaja di Mataram, Tahun1998.
2. Penelitian Evaluasi dan Pembinaan Pokja DBD Khususnya Ibu Dasa Wisma dalam Pelaksanaan Penanggulangan Penularan Penyakit DBD, Tahun 1999.
3. Penelitian Peningkatan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Berbasis Masyarakat dengan Pendekatan Pendidikan Kesehatan Masyarakat, Tahun 2000.
4. Penelitian Pengembangan Metode Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Daerah Endemis Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Tahun 2001.
5. Penelitian Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue di DKI Jakarta 2003.
6. Penelitian Wabah Demam Berdarah Dengue pada Sepuluh Rumah Sakit di DKI Jakarta Tahun 2004. (Penelitian ini sedang berlangsung).
Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilen dengan menggunakan teknologi informasi (Computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System ( EWORS ).
EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS (Badan Litbangkes. Depkes RI.) secara cepat.
Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia.
VII. KESIMPULAN
1. Penyebab penyakit DBD di Indonesia adalah Virus Dengue tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4.
2. Sejak Bulan Januari sampai dengan 5 Maret 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR=1,53% )10. Kasus DHF tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) dan CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%)
3. Perlu kewaspadaan yang tinggi terhadap penyakit DHF terutama pada musim penghujan.
4. Cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan “3M Plus” yang melibatkan seluruh masyarakat serta disesuaikan dengan kondisi setempat.
VIII. SARAN
1. Perlunya digalakkan “Gerakan 3 M plus” tidak hanya bila terjadi wabah tetapi harus dijadikan gerakan nasional melalui pendekatan masyarakat.
2. Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS) perlu dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Download PDF Version (67 KB)
Subscribe to:
Posts (Atom)